Pagi yang Tak Pernah Bertanya

Masih ada dingin yang tinggal  
di sela genting-genting tua  
dan burung belum juga terbang—  
hanya langit yang tahu  
betapa sunyinya pagi ini.

Fajar datang tanpa gegap,  
cahayanya tak terburu-buru,  
hanya menyentuh perlahan  
dinding rumah yang tak meminta apa-apa,  
pohon-pohon yang diam saja,  
dan aku,  
yang masih setia menatap ke atas  
mencari sesuatu  
yang mungkin tak akan kutemukan.

Langit pecah dalam warna emas muda,  
seolah malam tak pernah terjadi.  
Tapi aku tahu,  
gelap semalam masih tinggal  
di dalam dada  
yang belum sempat pulih  
sepenuhnya.

Tak ada yang megah dari pagi ini—  
tapi justru dalam kesederhanaannya,  
aku melihat kejujuran,  
bahwa hidup memang begini,  
datang dan hilang,  
hangat lalu dingin,  
terbit lalu kembali tenggelam.

Dan atap-atap itu,  
tak pernah meminta langit  
untuk tetap biru.  
Mereka hanya berdiri diam,  
menunggu—  
seperti aku yang tak lagi berharap,  
tapi masih saja  
menengadah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sore yang Tak Terulang

Sisa Langkah